Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
menyudut tak menyulut
Kami sengaja duduk di tempat duduk yang menyudut di sebuah kafe. Tidak. Kami tidak mau "mojok" supaya orang bisa ngintip aktifitas yang kami lakukan. Kami sama-sama benci kerumunan dan keramaian. Kami suka menyenandungkan sepi sebagai pengiring.

Hanya tiap kali menatap manusia ini yang mungkin di luar nyawaku dan andai aku mengganda seperti makhluk mikroskopis, mungkin aku tak seharusnya bertemu dengannya. Di luar akal yang orang bilang kurang bermakna mengatasnamakan ke-normal-an...
Gea. Dia paling senang berjalan di malam hari menikmati hanya sekadar menikmati lampu jalanan, lampu-lampu mobil, dan angin yang berhembus menggelitiki telinganya. Bunyi angin itu lucu. Dia selalu bilang seperti itu pada dirinya sendiri. Angin berbisik, angin bisa dirasakan, namun angin tak bisa digenggam dan dilihat. Aneh, ya?
sumber: www.tumblr.com
Suasana Cafe Hauss saat itu masih sepi. Apalagi hari Rabu, siang jam dua lagi. Tidak sampai sepuluh orang di dalamnya. Kasir dan pelayan sempat bercanda, bahkan si empu Cafe Hauss yang beberapa kali bilang jangan magabut juga nimbrung bercanda. Beda suasananya kalau sore menjelang malam, lumayan ramai. Tentunya nggak seramai ketika Jumat sore, Sabtu, dan Minggu. Sudah terbilang dari dalem sampai luar kursi pasti terisi.
Pernah kubilang, aku hidup hingga sekarang. Aku menghentikan napasku, tapi aku masih bisa hidup. menghentikan napasku untukmu dan untuk orang lain.

Tidur...
waktu termakan karena banyak tidur
Siapa tidak menyukai tidur?
Kegiatan dimana bisa melupakan segala penat
Sebentar bisa lari dari kenyataan
Sementara bertualang
Mengadu nasib entah bisa mimpi indah atau buruk
Kadang bisa diteruskan kadang pun tidak
Cuma tidur
Kemudian bangun dan lupa apa yang dimimpikan
Bangun lebih bisa teringat pada realita
Kenyataan
Padahal tadi sudah tidur
Harusnya lupa akan realita
Kenyataan
Fakta
Informasi
Yang
Menyakitkan
Kenapa tidak ditukar saja?
Hidup
Dan
Mimpi
Ingat
Dan
Lupa
Memilih
Dan
Tidak
Berapa sih harganya untuk menukar itu semua?
Berapa?
Lelah. Hanya lelah. Terus lelah. Lelah berpikir.
Tak ingin berpikir pun kepikiran.
Tak ingin diganggu pun terganggu.
Semuanya serba kebalikan.
Ingin mati rasanya tak bisa.
Ingin menahan napas biar mati rasanya sulit.
Mimpi saja.
Bisa tidak mati ketika tidur?
Aku tidur lama.
Tapi kenapa aku tidak mati-mati?
Hanya bermimpi aku mati.
Kapan aku bisa mati?

I'm running over...
Not fast nor slow
I'm just running
Sometimes taking a walk
I'm going over the line
Not on the path, but on the grass

I might close my eyes intentionally
I might throw my mind to walk on the road
Because I know
I might get hurt
I might know the truth
I might have my self full in tears

All I see
I know
I just pretend I don't know
I know
I just see half part of it

I know
I am shrinking
I am sinking
I am drowned
Because I've been pretending
And it hurts
It's getting me hurt
...day by day...
...time by time...
And I won't know how to end this
Cause it hurts


Hello, it's me... Kanaya

Semuanya akan terungkap pada waktunya. Semua yang harus diketahuo dan semua yang selama ini hanya mengelabui.
Pernyataan dan penafsiran berseteru, membentuk persepsi yang nanti akan terjawab.
Sisanya, terserah... mau dikata apa, yang saya tahu semuanya akan terkikis perlahan.
Yapyap

Thinking again when he just told me about such a little nice thing... it was sweet but I might said kind of troll inside of the words...

Him: Aku kangen banget sama bau kamu (bau: tiap orang punya feromon / wangi khas)
Me: Emang baunya kayak apaan sih?
Him: Baunya... ngg, enak. Ya bau kamu.
Me: Bau apa? Cokelatkah?
Him: Bau kamu enak, ada asemnya... (senyum manis)
Me: ........

:)


Saya cuma mau pulang...
Saya tertatih-tatih dalam bualan dunia, bualan orang, bualan diri, dan bualan tentang kamu...
Bualan, siapa yang mengerti apakah itu hanya bualan atau lelucon?
Bermain-main di dalam pikir, membuat sekelebat sel yang dianalogikan seperti benang, diputar-putar tak bertemu ujungnya.
Kamu dalam bualan saya, bukan... Lelucon saya... Kata orang itu lelucon, tahu darimana itu lelucon?!
Hanya memutar balik pikiran, membuat segala yang penting runyam.
Kamu pasti lelah,
Saya juga lelah.
Hanya ingin berada di dalam helaan napas dan menghirup tiap helaan lembut itu.

#ceritasoreharigara-garaandienpulang
3 pos berurutan, sama-sama bercerita tentang "pulang"
Saya ingin pulang... 

Ia terlelap, kelihatannya.
Perempuan terlelap, saya tahu itu.
Ia tak terlelap, begitu adanya.
Matanya membuka setengah, menerawang kejadian lalu.
Entah harus sedih atau bersyukur, tapi matanya sedih, saya tahu itu, tapi ia bersyukur.
Melihat perempuan terlelap lelah.
Dalam gelap ia menatapi perempuan.
Perasaannya...
Ia hanya mengelus kaki perempuan yang terlelap.
Berpikir, berapa lama ia tak melakukan itu?
Sayang... itu perasaannya...


Muncikari bukan seorang yang terlihat.
Anak-anaknya juga tidak terlihat seperti jalang.
Anak-anaknya bukan pesolek, mereka malah terlihat biasa dan cerdas.
Anak-anak muncikari tidak yang menonjol.
Mereka lebih bisa dibego-begoin dan diputarpikirannya.
Terlihat polos pada pikirannya, tetapi bukan pada perbuatannya.
Muncikari memperdaya! Iya dia memperdaya!


Siapa yang mau anak-anaknya?
Tak harus dibayar, mereka mau melayani dengan hati dan diperdaya.
Katakan saja kalimat manja, mereka akan mengiyakan.
Perlahan beku mereka cair.
Anak-anak muncikari mencintai bangsat.
Bangsat yang mencari hati, katanya, mencari hati.
Bibir manja, bibir manis.
Mereka mencari birahi.

Muncikari bersembunyi, ditanya anak-anak, siapa ibu mereka.
Ibu yang membawanya sampai ke tepi tebing.
Ibu mereka tak terlihat.
Muncikari tertawa.
Anak menangis, muncikari terbahak.
Bangsat puas, muncikari melengos bangga.
Kerjanya berhasil.

Anak meronta, anak meraung, anak berlari.
Membawa pisau dan tali, satu asa mereka, membunuh muncikari.
Mencari ibu mereka yang biadap, muncikari.
Tak didapatinya dimanapun, di pelosok, di tepi tebing terakhir anak-anak bertemu bangsat.
Anak berlari ke rumahnya.
Berhadapan dengan cermin.
Rupa mereka kasihan.
Tak harusnya rupa mereka menjadi bangsat yang tak harus dikasihani.
Mereka menjadi bangsat.
Gara-gara muncikari dan si bangsat mengambil birahi!
BANGSAT!
Anak muncikari. Mereka bangsat.
Berdiam menatap mata dicermin, menemukan sosok yang mereka temui.
Muncikari, setan. Rupanya setan! Dia bersembunyi dibalik mata anak-anak.
Anak muncikari gila.
Ia benci melihatnya, berbicara dengannya apalagi.
Karena rupa mereka bangsat!!!

Ketika saya masuk ke dalam sebuah ruang yang tak sengaja saya masuki begitu saja. Bertanya mengapa saya bisa masuk? Karena tak ada tulisan yang melarang. Menikmati segala hal yang membuat mata saya langsung memanja. Hati saya nyaman dan saya merasa jatuh hati. Beranjak pun rasanya belum tepat. INi indah. Memang indah...

Ketika saya diam, pikiran memandu saya berjalan mengitari ke sebuah logika yang tak ingin saya buka untuk saat itu. Pikiran yang mengajak ke ruang yang sama dengan segala busuk ceritera darimana ruang itu berasal. Ruang yang membius dengan sejuta lalu yang terpendam dan kini yang tak terkuak. Kupu-kupu saksi dari ruang itu. Ia memandu dan ia berbisik. Keluarlah! Sebelum saya menjadi kini dan akan menjadi lalu yang terpendam.

Saya terhenti. Berpikir... terlalu lama berpikir dan terlalu rumit untuk mencerna. Kenapa bisa semua membius? Apa ada yang salah? Tak melihat ternyata terdapat ribuan jejak tak berarah. Hanya diam di ruang itu lalu tak tergambar kemana lagi.

Ini permainan. Saya dalam sebuah ruang beralas papan permainan.
Saya sadar... Siapa penggerak pion itu? Siapa penghuni lain? Tak diketahui....
Ini permainan? Hahaha....
Saya punya permainan pula....
Mau ikut bermain?

Rasanya saya sama seperti yang lain....
Rasanya seperti daun gajah yang tetap dipandang daun pula oleh ulat
Sebodoamat dengan bahasa ulat
Yang saya tahu, ulat makan daun
Daun apa saja
Ya tetap sama

:)

Laki-laki paling tidak tahu diri yang pernah kukenal dan laki-laki paling cengeng yang pernah saya tahu. Dasar lemah! Brengsek dan egois. Pendendam pula. Tak akan pernah lupa ketika dia memperolok ayah. Dasar laki-laki sok kuat. Memang sudah berlama-lama dia bersarang di kehidupan sekolah dan menggangguku. Bertahun-tahun aku tak melihatnya lagi.

Namun, aku baru saja melihatnya. Memakai motor besar merah menyala. Jaket kulit kesan menyeramkan karena lambang bara api dan tengkorak bak ghost rider. Kukira jaketnya melawak, dia sendiri kan takut setan! Padahal kelakuannya mirip setan. Lagi-lagi helm dan kacamata hitamnya bikin dia sok ganteng. Nampaknya dia makin brengsek, makin hari. Melihat penampilannya seperti itu. Sudahkah dia berhasil meniduri perempuan?

Kembali lagi. Aku sempat tahu. Di balik wajah brengsek, mesum, dan sok galaknya itu. Di balik ke sok maco-an karena motor dan penampilannya. Dia itu bisa main biola dan piano. Kadang aku tertawa, klasik sekali. Bertolak sekali dengan penampilan sangarnya. Di balik mulut busuknya yang suka mengeluarkan kata-kata busuk, dia cengeng, sangat cengeng. Coba maki dia, sudutkan dia, mungkin dia marah tapi dia akan menangis. Di balik wajah angkuhnya yang minta-ditonjok-sekali, dia menyapa ketika bertemu denganku.

Aku tetap membilang...... dia deretan orang yang ingin aku tonjok dan belum terlaksana. Kita tunggu waktunya yang tepat.

#throwbackthrowpunch

Mempertanyakan musim gugur, mempertanyakan bagaimana daun-daun melayukan diri.
Heran, sebagian ada yang bersedia melepas dari cabang, melepas entah sekian lama bertahan di cabang-cabang.
Sebagian lain ada yang sudah tak kuat dan menerima kemana angin membawanya pergi.
Sebagian ada yang lantang-luntung menunggu waktunya.
Gugur, tak semuanya jatuh ke tanah.
Tak semuanya memutus dari dahan.

Lihat, dedaunan yang memutus kemana ia akan pergi. Apakah ia pergi atau bertahan.
Dedaunan yang memutuskan.
Namun, batang pohon hanya berdiam dan menunggu, bersiap melepas dan tetap membentang, sengaja membiar dan sengaja tak berkutik.


#inginmelihatmusimgugur

Aku punya cerita. Ketika dua dimensi yang sulit digambarkan dengan kata-kata hanya berlalu begitu dam tidak memakai "saja". Entah butiran nano-nano macam apa yang bisa begitu melekatkan pori-pori mati rasa itu  dan menutupinya, timbullah rasa. Mati rasa hilang.

Aku punya cerita, dari dua titik masa
yang berbeda. Bukan masa yang sama alurnya dan cenderung bertolak. Titik macam apa yang biza menghubungkan dua masa itu. Aku tak mengerti, bukan seuntai garis yang bisa menarik satu sama lain sehingga begitu tererat. Garis terlalu memberi batas.

Aku punya cerita. 21 bukan angka sembarang. 21 bukan sebatas usia tingkat kelegalan seorang manusia. 21 bukan soal untuk memenuhi hasrat dengan keringat sendiri. 21 untuk setiap perbedaan yang terkubur, tak mungkin dipandang mata. Orang memandang tak tahu apa yang mereka benakkan. Orang bicara, tak tahu tujuan mereka untuk apa. "Sebab" selalu mengerti dan "Sebab" adalah alasan yang tak berarti. Diikuti sebuah rentetan kata yang tak bisa menjelaskan "sebab" itu sendiri.

Kamu tak bisa menebak dan tak bisa tahu.... hanya aku yang punya cerita dan dia punya cerita dari dimensi yang berbeda.

Apa perasaanmu bila kamu selalu dikekang atau dibatasi? Apa yang kamu rasakan bila kamu ingin memperjuangkan impianmu tetapi selalu ada halangan? Aku ingin meraih impianku. Impianku sejak lama dan kini belum terwujud.
Setiap orang pasti memiliki impian. Pikiranku selalu melayang-layang ketika aku sedang sendirian. Aku ingin memenuhi satu impianku diantara ribuan impian lainnya. Satu saja dan tidak berlebihan. Aku ingin menjadi seorang penulis. Aku senang berimajinasi hal-hal aneh. Itu yang kulakukan setiap kali aku sendiri. Tetapi impianku ini dikekang oleh Mama dan Papa. Bahkan kakakku, Kak Retta, selalu menertawakan aku. Mereka selalu berkata, “Nggak mungkin kamu menjadi seperti JK. Rowling! Jangan mimpi kamu.”
Aku memfokuskan pandangan mataku pada setiap huruf pada keyboard komputer. Tik, tik, tik, tik. Kudengar detikan jarum jam yang menempel di dinding. Sudah jam setengah sebelas malam. Mataku juga sudah mulai memunculkan tanda-tanda ingin istirahat.
“Nanda! Sampai kapan kamu mau nongkrong di depan komputer? Besok kamu harus sekolah,” kata Mama yang tiba-tiba muncul di belakangku. Aku terlonjak dari tempat duduk.
“Ii...iya, Ma. Baru mau tidur,” jawabku gelagapan.
“Apa yang kamu kerjakan? Tugas sekolah? Sampai ratusan halaman lebih begitu ketikannya,” tanya Mama.
“Novel,” jawabku singkat.
“Untuk apa sih kamu membuat novel? Buang-buang waktu saja. Lebih baik kamu belajar daripada mengetik novel yang tidak penting seperti itu. Mama sudah pernah bilang, jangan pernah kamu nongkrong di depan komputer kecuali pekerjaan sekolah! Bisa-bisa matamu rusak,” kata Mama panjang lebar.
Telingaku bisa-bisa tuli. Setiap saat aku mengetik novel pasti dikomentari. Ini memang kesenanganku, ini hobiku, dan ini minatku. Minat dan hobiku ini tidak boleh dibatasi oleh siapapun, karena itu hakku. Lagipula menjadi seorang penulis novel adalah hobiku sejak SMP dan sekarang aku sudah kelas dua SMA.
Setelah mematikan komputer, aku berjalan menuju ke kamarku. Kuhempaskan tubuhku ke kasurku. Mengapa Mama tidak menyukai hobiku ini? Menurutnya hobiku ini tidak menghasilkan uang yang banyak, tidak penting, dan tidak berguna. Menyebalkan. Aku harus memenangkan lomba itu. Ya, lomba yang diselenggarakan oleh suatu perusahaan toko buku yang terbesar di Indonesia. Perusahaan itu menyelenggarakan lomba menulis novel remaja dan aku mengikutinya tanpa sepengetahuan Mama dan Papa. Bisa-bisa aku kena marah mereka bila aku memberitahu soal ini.
“Hey! Belum tidur?” suara Kak Retta mengagetkanku. Tiba-tiba saja kepalanya muncul di ambang pintu.
“Ah, Kak Retta! Buat aku kaget saja. Ada apa?” tanyaku. Kak Retta masuk ke kamarku dan berjalan berjingkrak-jingkrak ke arahku lalu duduk di tempat tidurku. Dari tingkahhnya kuyakin dia pasti sedang senang.
“Girang banget kelihatannya?” tanyaku.
“He-eh... Aku diterima jadi asdos di kampus. Hahaha...” jawabnya.
“Asdos?”
“Iya! Asisten dosen.”
“Hebat dong. Kelihatan seperti orang pinter dong buntutin dosen terus. Memangnya kenapa sih mau jadi asdos?” tanyaku lagi.
“Iyalah, aku juga pingin tau kerjanya dosen lelahnya kayak apa. Aku juga cita-citanya mau jadi dosen. Yaa kalau nggak dosen ya guru. Mama juga senang aku jadi asdos. Malahan Mama menyarankan aku jadi asdos sejak aku kuliah. Senang banget deh,” jawabnya sambil memeluk bantalku. Kata-kata Kak Retta membuatku berpikir sejenak. Mengapa Mama bisa mendukung Kak Retta, sedangkan aku yang bercita-cita menjadi penulis saja tidak didukung.
“Senang ya, apalagi Mama dukung. Aku saja yang bercita-cita menjadi penulis nggak didukung. Kak Retta jangan bilang-bilang yaa... Aku mau ikut lomba menulis novel. Tadi saja Mama marah-marah lihat aku mengetik novel,” kataku.
“Mimpi kali kamu kalau bisa seperti Rachmania Arunita. Mama pikir kalau menjadi seorang penulis itu nggak penting dan penghasilannya sedikit. Kalau boleh tahu judul novel kamu apa?”
“Judulnya? Judulnya itu “Lautan Mimpi”. Kakak bisa lihat di folderku di komputer. Ada juga novel-novel yang lainnya,” kataku.
“Kapan-kapan aku lihat deh. Hahaha...”
*****
Akhirnya pelajaran terakhir berakhir. Pelajaran yang paling tidak kusukai. Apalagi kalau bukan Fisika? Rumus, rumus, dan rumus. Aku pusiiinggg!!! Dan sekarang, setelah jamnya pulang sekolah, aku harus bertugas menjadi penjaga perpustakaan sekolah.
“Siang, Pak!” sapaku kepada Pak Dido yang sedang asyik di depan komputer.
“Oh, Nanda! Siang. Bagaimana novel kamu? Sudah jadi atau belum? Nanti kalau sudah selesai Pak Dido kirim,” kata Pak Dido.
“Belum, Pak. Mama saya selalu nggak bolehin saya buat meengetik novel. Jadi ada kendala nih. Selalu terganggu. Hahaha...” kataku sambil meletakkan tasku.
“Ya ampun, kasihan kamu. Eh, bapak mau pulang dulu. Kamu tolong matikan komputernya ya. Terus nanti kamu jangan lupa kunci ruang perpustakaan sebelum pulang,” kata Pak Dido sambil membenahkan perangkasnya.
“Sip, bos!” kataku.
Baru saja Pak Dido melangkahkan kakinya keluar dari ruang perpustakaan, beliau memukul kepalanya dengan tangan lalu kembali lagi.
“Bapak lupa, nanti ada jurnalis mahasiswa yang mau kemari, tolong kasih dokumen ini ya ke orangnya. Bapak pulang dulu,” kata Pak Dido sambil memberikan map merahnya kepadaku.
Kuletakkan map merah itu di meja petugas perpustakaan. Perpustakaan sudah mulai sepi. Masih ada empat lima orang yang masih asyik membaca di perpustakaan. Diantaranya sih ada yang sedang asyik berpacaran.
Aku berjalan menuju rak-rak buku yang berantakan tidak keruan. Seperti biasa, para siswa tidak membereskannya kembali jika meminjam buku. Kulihat Lintang, sahabatku, celingak-celinguk kebingungan. Pasti mencariku. Kudiamkan saja, toh nanti dia melihatku. Benar saja, dia berlari menghampiriku.
“Nanda caayaaang!” sapanya manja gelayutan di pundakku.
“Lin, kamu nggak lihat nih aku banyak kerjaan?” kataku sedikit judes padannya.
“Iya, aku bantu. Habisnya aku cari kemana-mana kamu nggak ada. Aku kangen tahu sama kamu!” katanya sambil merapikan buku-buku di rak yang lain.
“Dasar! Baru satu jam yang lalu nggak ketemu udah kangen,” kataku.
Keadaan perpustakaan kini sudah kosong melompong, kami duduk di salah satu kursi sambil membaca majalah. Jam dinding perpustakaan menunjukkan pukul 15.15. Sudah dua jam lebih aku menunggu jurnalis yang dimaksud Pak Dido. Hatiku mulai kesal menunggu lama jurnalis itu.
Aku sedang membutuhkan hiburan saat ini. Nilai-nilaiku hancur lebur seperti api yang menyala, alias banyak angka merah. Mama dan Papa melarangku untuk bepergian ke sana kemari, bahkan aku tidak boleh pergi ke toko buku untuk membeli novel.
“Bagaimana novelmu sudah selesai?” tanya Lintang padaku.
“Sedikit lagi, tinggal satu bab lagi. Aku tidak bisa menyelesaikan secepat mungkin karena Mamaku sering melarangku untuk melanjutkan karangan novelku. Aku bisa gila nih!” kataku panjang lebar.
“Aku mendukungmu sepenuhnya! Aku yakin kamu bakal menang,” kata Lintang dengan suara yang sangat yakin.
Ya, dia sahabat terbaikku. Apapun yang aku lakukan ia selalu mendukungku selama hal yang kulakukan positif. Ia tidak bosan membaca novel-novel yang kubuat. Ia menyarankannya untuk menerbitkan novelku, tetapi aku menolaknya. Bisa-bisa aku diusir dari rumah kalau ketahuan Mama aku menulis banyak novel. Mama tidak pernah mendukung hal yang ingin kulakukan.
“Lintang, pulang saja yuk. Aku malas menunggu jurnalis itu,” kataku memutuskan untuk pulang saja.
“Jurnalis? Jurnalis apa?” tanyanya bingung.
“Tadi Pak Dido menyuruhku menyerahkan dokumen yang ada di map merah itu kepada jurnalis yang mau datang kemari. Tapi sampai sekarang belum datang,” jawabku.
“Lantas, kamu tahu darimana orang yang dimaksud Pak Dido itu?” tanya Lintang.
“Ya dari bajunya, jurnalis tidak memakai baju seragam sekolah. Masa kamu nggak tahu sih? Paling tidak tanya sama orangnya, jurnalis atau bukan,” jawabku sambil meletakkan majalah yang kubaca tadi pada tempatnya.
Kami berdua memutuskan untuk pulang saja daripada berlama-lama di sini kalau jurnalis itu tidak datang.
Aku mengambil map merah itu lalu kubereskan meja petugas perpustakaan. Kami pun bersiap-siap menggendong tas kami untuk pulang. Tidak lupa sesuai pesan Pak Dido aku harus mengunci pintu perpustakaan.
“Maaf, Pak Didonya ada?” tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki dari belakangku. Aku menoleh ke belakang.
“Sudah pulang dari tadi. Maaf, Anda siapa?” tanyaku.
“Saya Tias, jurnalis. Tadi saya mau ambil berkas-berkas kumpulan cerpen dari Pak Dido,” jawabnya.
“Ooh, jadi kamu jurnalis itu ya? Tau nggak sih? Saya disuruh Pak Dido untuk memberikan map ini. Selama dua jam saya menunggu kamu! Kamu kira dua jam itu sebentar? Dua jam kamu bilang itu bagaikan satu menit?”
“Maaf, tadi saya ada urusan di kampus. Saya benar-benar minta maaf. Bisa saya minta map merah itu?”
“Lain kali lihat jam. Kalau perlu tangan kamu diikat jam bom sekalian,” kataku sambil menyerahkan kasar map merah itu.
“Terima kasih,” katanya singkat.
“Saya mau pulang dulu. Lintang, yuk pulang!” kataku sambil menggandeng tangan Lintang.
Lintang melongok seperti sapi ompong menatap Yang Mulia Jurnalis, Tias. Dari tadi tatapannya lurus tertuju padanya. Sekarang begitu kutarik kepalanya masih saja menoleh ke belakang.
“Maaf! Nama kamu siapa?!” tanyanya dari koridor.
Aku tersentak kaget mendengar teriakan itu. Aku menghela napas kesal. Aku ingin cepat-cepat pulang, aku lelah, dan aku ingin tidur. Ingin istirahat dan ingin cepat-cepat sampai di rumah. Terpaksa kubalikkan tubuhku ke belakang.
“Nanda!” jawabku dari seberang koridor.
Di tengah perjalanan pulang, mulut Lintang bagaikan bebek. Ia membicarakan Tias terus menerus, memujanya, dan mengatakan bahwa Tias adalah orang yang paling keren dilihatnya. Aku hanya mengiyakan omongannya. Pusing tujuh keliling aku mendengarkan omongannya. Bayangkan saja mulutnya tak berhenti bicara, bahkan ketika ia sudah sampai di rumahnya tetap saja menyerocos dan membicarakan Tias.
*****
Akhirnya novelku sudah selesai. Tetapi aku tidak akan mencetaknya, itu belakangan saja. Yang penting novelku sudah jadi dan aku tinggal mengkoreksinya. Masakan di depan mataku seakan terasa sangat lezat, karena hatiku sedang girang.
Kini novelku sudah jadi tiga buah. Tapi yang akan kubuat lomba kali ini yang judulnya “Lautan Mimpi”. Novel ini menceritakan bahwa ada seseorang yang berusaha mati-matian mewujudkan mimpinya sampai-sampai ia menghabiskan uangnya. Walaupun uangnya habis ia sangat senang karena impiannya itu menjadi nyata. Impiannya dapat membawa kehidupannya menjadi indah. Semua orang pasti memiliki impian dan janganlah putus asa untuk mendapatkan impianmu walau banyak tantangan.
“Enak ya, makanannya!” kataku pada Mama sambil memakan makanan yang ada di piringku.
“Makanlah yang banyak. Oh ya, tadi pagi komputernya Papa format. Jadi semua data yang ada di komputer hilang,” kata Mama sambil memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.
Aku terdiam. Mataku melotot dan aku benar-benar tidak yakin apa yang Mama katakan tadi.
“Apa?” tanyaku sekali lagi.
“Komputernya Papa format, jadi semua datanya hilang.”
Aku benar-benar tidak percaya. Sampai-sampai aku tersedak. Kuminum air yang ada di bejana besar di tengah meja makan. Aku tidak peduli darimana air yang kuminum itu.
“Kamu minum dari gelas kamu dong! Tau sopan santun nggak sih?” kata Mama kesal padaku.
“Jadi semua cerpen-cerpenku, novel-novel yang kubuat, dan tugas-tugas lainnya hilang?!” tanyaku pada Mama.
“Sudah Mama bilang tadi! Hilang semuanyaaa!” kata Mama agak kesal.
“Kok tega sih?! Itu semua hasil kerjaku! Hasil buah pikiranku! Hasil karyaku! Kenapa Papa format komputer tanpa bilang-bilang sih? Novel yang sudah kutulis untuk lomba hilang! Itu semua hasil jerih payahku! Mama benar-benar nggak pernah tau apa keinginan anaknya dan apa potensi anaknya! Aku nggak mau makan!” kataku marah-marah pada Mama sambil memukul meja makan.
“Menjadi seorang penulis tidak akan menghasilkan uang dan tidak akan mencukupi kebutuhan kamu!” teriak Mama padaku.
“Nggak peduli!” teriakku balik.
Bayangkanlah! Ini sudah kelewatan, keterlaluan, dan benar-benar membuatku marah. Sudah banyak cerpen yang kusimpan di folder komputer itu dan kini semuanya hilang. Terutama novel yang akan kukirim lomba! Menyebalkan!
Seharian itu aku tidak makan. Juga makan malam hari itu juga tidak mau keluar kamar. Aku mengunci diri di kamar. Papa dan Kak Retta sudah membujukku, tetapi aku tidak mau makan. Mama juga membujukku, tetapi selanjutnya ia tak peduli lagi.
Perutku sudah keroncongan minta diberikan makan, tetapi kutahan. Biar saja penyakit maghku kambuh. Bukan salahku ini bila maghku kambuh. Ini semua salah Mama yang membuatku mogok makan.
Seharian aku menangis dan kini mataku berkantong., suaraku bindeng, hidungku mampet, dan rambutku acak-acakan. Gila! Inikah yang dinamakan gila? Atau tahap akan menjadi gila? Cerpenku tidaklah sedikit! Tidak bisa terhitung berapa cerita yang kubuat. Kini hilang, tidak ada, dan kosong melompong.
Sudah jam sebelas malam dan besok aku harus sekolah. Satu hal yang mengganjal dalam pikiranku.
Biasanya sebelum aku tidur biasanya aku nongkrong di depan komputer untuk melanjutkan dan mengedit novelku.
“Nanda, ayo dong buka pintunya! Aku mau ngomong sebentar sama kamu,” tiba-tiba terdengar suara Kak Retta dari luar. Aku memutuskan untuk membuka pintu kamarku.
“Ya ampun, muka kamu kenapa tuh?” tanya Kak Retta sambil mengelus rambutku.
“Menuju siklus mengalami kegilaan,” jawabku.
“Ngapain kakak kemari? Mau ngata-ngatain kalau aku nggak bisa jadi kayak JK. Rowling atau Rachmania Arunita? Memang! Sekarang semuanya hilang dan aku kehilangan potensi sebagai penulis. Nggak ada yang dukung keinginanku selama ini! Aku nggak sama kayak Kak Retta yang keinginan Kak Retta didukung sama Mama,” kataku.
“Memangnya dukungan harus secara terus terang diungkapkan? Aku cuma mau kasih ini ke kamu. Ada isinya lho. Terus aku juga sudah menyiapkan makan malam buat kamu. Sudah ya, jangan nangis lagi!” kata Kak Retta. Ia memberiku flash disk 1 GB (gigabyte).
“Isinya apa?” tanyaku.
“Lihat saja! Sudah, ah! Aku mau tidur, besok aku ada matakuliah pagi. Daaa, Nanda! Aku bobo dulu,” katanya sambil berlalu.
“Eemm... Kak Retta! Makasih banyak,” kataku pada Kak Retta. Kak Retta tersenyum padaku. Wajahnya sudah tampak mengantuk. Sepertinya pekerjaan asdos melelahkan.
Tak tanggung-tanggung karena penasaran aku langsung membuka isi flashdisk itu di komputer. Cepat-cepat kunyalakan komputernya dan aku ingin mengecek apa isi dari flashdisk itu.
Jantungku berdebar-debar dan ternyata setelah kubuka. Taadaaa!!! Isi semua folderku! Isi semua file-fileku! Semuanya tersimpan dalam flashdisk ini. Tunggu, novel-novelku dan cerpen-cerpenku juga tersimpan di sini! Aaah! Aku jadi teringat akan kata-kata Kak Retta bahwa dukungan tidak harus secara terus terang diungkapkan.
Kulihat ternyata ada file yang tampaknya bukan milikku. Kubaca file itu, ternyata memang bukan punyaku. Kubaca saja isinya.
“Nanda, ini aku! Aku Retta. Hahaha, senang ya file kamu balik? Kata siapa aku nggak dukung kamu? Memang setiap kali kamu bilang mau menjadi penulis aku selalu ejek kamu. Tapi aku bangga sekali punya adik kayak kamu. Pantang menyerah untuk mengembangkan potensi kamu. Aku sudah baca semua cerpen kamu. Ternyata sangat bagus tauuu!!! Apalagi yang judulnya “Stocking Robek”. Aku bacanya sampai ketawa. Setiap jam satu malam aku selalu baca cerpen-cerpen kamu, terus aku mutusin buat simpan semua file kamu di flashdisk ini. Oke? Aku belum baca novelnya. Habis panjang banget! Nanti kalau kamu menang lomba novelnya, traktir-traktir yaaa... Hahahaha! Luft you!!”
Aku tersenyum membaca ketikan Kak Retta. Selama ini persepsiku salah. Aku senang memiliki kakak sepertinya. Dibalik sifat menyebalkannya, ternyata ia sangat perhatian.
Aku lupa akan perutku yang daritadi menjerit-jerit minta diberi makan dan kini jeritannya makin mengeras. Aku menuju ke ruang makan dan makan sampai kenyang. Dan memang, makanannya enak! Malah semakin enak rasa masakan Mama!
*****
“Pak Dido! Tolong kirim novel saya yaaah! Saya sudah selesai mengedit,” kataku saat kubuka pintu perpustakaan.
“Oh, Nanda. Sudah selesai? Baguslah, ceritain ceritanya dong. Bapak pingin tau. Hehehe,” kata Pak Dido mengambil amplop cokelat besar yang kusodorkan.
“Ada deh! Nggak bakal kukasih tau sebelum ada pengumuman pemenang. Jadinya kan nggak seru,” kataku menolak.
“Dasar! Oh ya, ini Tias jurnalis yang waktu itu. Tias, ini Nanda. Pasti kamu sudah tau,” kata Pak Dido memperkenalkan orang yang duduk di sebelahnya.
Apa? Tias? Orang super ngaret di dunia. Dia lagi. Ini Kedua kalinya aku bertemu dengannya. Kesan pertama saja sudah sangat menyebalkan, apalagi kesan yang kedua kali aku bertemu dengannya.
“Hai!” sapanya sambil tersenyum.
“Halo!” sapaku padanya.
Pertemuan kedua yang garing. Tidak ada apa-apa hanya sapaan. Benar ‘kan? Kurang mengesankan. Kesan yang kurang bisa kuterima.
“Kamu tau nggak? Dia ini jurnalis dari perusahaan toko buku yang menyelenggarakan lomba mengarang novel itu lho. Lomba yang kamu ikuti. Dia kerja sambilan buat tambahan uang saku,” kata Pak Dido.
“Wow! Hebat dong,” kataku agak terkejut mendengar perkataan Pak Dido.
Sepertinya kesan itu bisa kuubah menjadi kesan yang sangat bisa kuterima setelah mendengar perkataan Pak Dido.
“Memangnya kamu umur berapa?” tanyaku pada Tias.
“Baru sembilan belas tahun,” jawabnya.
Ternyata dia beda tiga tahun dari umurku. Hahaha, ternyata tidak beda jauh ya. Kesan kedua kali ini kuberi nilai delapan puluh.
“Ini Venanda Putri yang Pak Dido ceritakan, ya? Ternyata lebih cantik dari dugaan saya,” katanya pada Pak Dido. Pak Dido pun mengangguk.
“Jangan berlebihan!” kataku tiba-tiba.
“Aku suka baca cerpen kamu yang judulnya”Stocking Robek”. Pak Dido sering memberikan karangan cerpen-cerpen kamu kepadaku. Aku menilai kalau kamu punya bakat dan potensi sebagai penulis. Tetapi kenapa kamu nggak coba terbitkan novel kamu?”
“Mama dan Papa selalu mengekang aku. Aku nggak diperbolehkan untuk menulis novel. Menurut mereka cita-citaku menjadi penulis bukanlah cita-cita yang mencerahkan masa depanku. Mereka berpikir menjadi penulis tidak menghasilkan uang.”
“Itu nggak benar! Kata siapa penulis nggak bisa menghasilkan uang? Kamu lihat Rachmania Arunita yang mengarang “Eiffel I’m in Love”? Lihat, novelnya sampai dibuat film. Dan kamu bayangkan gajinya besar, karena novelnya laris!”
“Yaa, aku tahu itu...”
*****
2 bulan kemudian...
Pagi-pagi sekali aku menunggu koran datang di pagar rumah. Hari ini adalah pengumuman lomba mengarang novel. Jantungku berdebar-debar menunggu Bang Dwi, tukang loper koran, di depan pagar rumah. Ini hari Minggu dan tidak biasa aku bangun jam lima dan sudah setengah jam aku menunggu. Dimana sih Bang Dwi? Lama sekali! Aku memutuskan untuk duduk di depan pagar. Masa bodoh kalau terlihat seperti pengemis.
Tiba-tiba terdengar suara motor mendekat kemari dan kuyakin itu Bang Dwi. Aku berdiri dan melambai-lambaikan tanganku ke arahnya.
“Eh, Neng Nanda! Ngapain pagi-pagi sudah nongkrong di depan pagar? Kayak orang minta-minta saja,” kata Bang Dwi sambil menyerahkan koran itu kepadaku.
“Bang Dwi lama banget! Aku sudah menunggu di sini dari tadi!” kataku mengomel.
“Saya dari kantor mah jam lima. Memangnya ada apa?”
“Ada perngumuman lomba pemenang,” jawabku.
“Eh, saya mau antar semua koran ini dulu. Kalau nggak, gaji saya bisa-bisa dipotong nih. Saya cabut yaa,” kata Bang Dwi menjalankan motornya.
“Terima kasih ya, Bang!” kataku.
Aku berlari ke kamar dan kunyalakan lampu kamar. Aku mencari-cari setiap halaman koran. Diman, dimana, dimana pengumuman itu? Dari tadi aku membolak-balikkannya tidak ada. Ah! Ini dia halaman terakhir! Ada! Sebentar... Juara pertama, Juwana Grista. Juara kedua Umar Twiastuti. Ehm... Kenapa tidak ada?! Juara ketiga... VENANDA PUTRI! Lihat namaku tertera di juara ketiga!
“MAMA! PAPA! KAK RETTA! AKU MENANG!!!” teriakku keras dari kamar. Emosiku meledak gembira melihat namaku.
“Ada apa?! Ada apa?!” tanya Mama panik, disambung Papa dan Kak Retta yang panik melihatku melompat-lompat di atas tempat tidur.
“Kata siapa aku nggak bisa jadi penulis novel?! Aku juara ketiga lomba mengarang novel se-Indonesia! Lihat! Lihat! Aku mendapatkan hadiah sebesar sepuluh juta! Asyiiik!!! Lihat itu!” kataku sambil melempar koran kepada Kak Retta.
Mama, Papa, dan Kak Retta membaca pemenang lomba penulis novel di koran itu. Mereka menatapku sambil tersenyum.
“Ada saingan JK. Rowling!” kata Papa sambil tertawa.
“Selamat, ya sayang! Mama dukung kamu jadi penulis novel. Berarti nanti kalau sudah besar kamu jadi penulis novel sekaligus dokter anak. Oke?” kata Mama.
“Hahaha, oke saja deh supaya cepat!” kataku.
“Aku akan selalu mendukung kamu kok! Aku sudah pernah bilang ke kamu ya ‘kan?” kata Kak Retta padaku.
“Aku tahu itu. Terima kasih banya Kak Retta kusayang!”
*****
Dua hari setelah hari pengumaman itu, aku menghadiri acara penerimaan hadiah dan penghargaan para pemenang lomba di pusat toko buku itu. Cek sepuluh juta, handphone, dan bingkisan lainnya sudah ada di tangan. Ini hasil jerih payahku selama ini! Lihat hasilnya dan lihat hadiahnya! Hahaha...
“Selamat, ya Nanda! Aku tahu kamu memang berbakat,” tiba-tiba suara itu mengagetkan aku yang sedang duduk menatap panggung gembira. Ternyata Tias.
“Oh, Tias! Terima kasih banyak ya. Ini semua berkat kamu yang menyadarkan aku. Mama dan Papa juga sudah mendukung aku. Aku sangat senang. Terima kasih yaaa!” kataku spontan menggenggam tangan Tias.
Kami pun terdiam dan tertawa pada akhirnya. Kesan ketiga kalinya aku bertemu Tias akan kuberi nilai dia seratus. Dia memang orang yang baik walaupun tukang ngaret. Dasar lelaki!
Akhirnya aku bisa mewujudkan impianku yang selama ini kupendam dan puncak kebahagiaanku pada saat aku melihat pengumuman. Sekarang impianku yang kedua ingin menjadi sutradara. Kira-kira aksi apa yang akan kulakukan untuk mewujudkan impianku ya? Omong-omong, bagaimana dengan impianmu?


TAMAT
That’s What Friends Are For

Hari ini semua pelajaran ditiadakan. Sorak-sorai anak-anak kelas XI IPS 2 yang terkenal kelas paling kacau, hancur, berantakan, dan tidak lupa masuk dalam daftar black list guru-guru di sekolah ini. Dari dulu aku sudah terbiasa mendapatkan kelas yang kacau seperti ini. Aku ini memang terkenal pendiam, tapi kadang-kadang penyakit anak-anak kelasku menularkan aku untuk menjadi anak yang bandel. Wali kelasku, Ibu Virna masuk ke dalam kelasku. Beliau masih tergolong guru muda di sekolah. Selalu saja memanjakan anak-anak, maka dari itu beliau dijuluki Mother of Teacher di sekolah ini. Kami selalu memanggilnya dengan sebutan “Mami”. Sering sekali di kritik guru, bahkan dimarahi guru.

“Halo anak-anak! Diam sebentar,” teriak Ibu Virna dari depan kelas.

“Siap, Mam!” jawab anak-anak kemudian serentak diam semua.

“Sekolah akan mengadakan lomba menyanyi dalam rangka acara ultah sekolah kita yang ke-40. Pilihan temanya persahabatan, ucapan syukur, dan kegembiraan. Mau pilih yang mana?” tanya Ibu Virna.

“Yah! Nggak asyiik neh! Temanya rock and roll baru enak,” kata Ozza sambil menggebuk mejanya.

“Laga lu tuh! Temanya kebahagiaan aja!” sahut Ninda. Wah! Kelasku sekarang ribut seperti di kandang bebek. Ibu Virna tersenyum kebingungan mendengar usul anak-anak yang aneh-aneh.

“Temanya persahabatan aja ya! Kita ‘kan satu kelas kompak semuanya. Kita tunjukin dong kekompakan kita ke yang lain. Walaupun kelas kita ancur, kita tunjukin potensi kita!” kata Ernan tiba-tiba menjadi penengah.

“Ibu setuju dengan pendapat kamu. Kalian setuju atau tidak dengan pendapat Ernan?” tanya Ibu Virna.

“Setuju, Mam!” sahut anak-anak dengan semangat.

“Tumben lu pinter, Nan!” kata Jojo menjitak kepala Ernan. Dan pada akhirnya kelasku menetapkan bahwa lagu yang akan dibawakan adalah lagu “That’s What Friends Are For”. Kukira nanti pasti ada perdebatan yang sangat ketat. Akankah itu terjadi? Ternyata benar…




Aku duduk di meja makan sambil melamun. Aku ingin sekali mengubah struktur lagu yang akan dinyanyikan nanti menjadi lagu kombinasi. Pertama-tama lagu yang dinyanyikan jazz tapi slow dan akan menjadi lagu pop. Menyenangkan bukan?!

“Heh! Bengong aja, kamu lagi ngelamunin apaan?” suara Mama membangunkan lamunanku. Aku menggeleng sambil tersenyum.

“Aulia, kamu jangan ketularan sama anak-anak kelas kamu yang bandel itu yah. Mama nggak suka sama kelakuan anak-anak kelas kamu. Berandal aja kayak preman. Ingat ya! Jangan berhubungan sama mereka,” kata Mama sambil memakan sesuap nasi ke dalam mulutnya.

“Kita berteman sama siapa aja ‘kan boleh, masa sampe dibatesin segala? Lagian aku ‘kan lagi mikirin buat lomba padus kelasku,” kataku menyambar omongan Mama.

“Kamu boleh temenan sama siapa aja. Tapi nggak untuk anak sekelas kamu! Mama nggak mau kamu ikutan berandal,” kata Mama lebih tegas lagi.

“Aku nggak mau jadi orang lain. Be your self aja deh. Nggak usah ngikutin apa yang orang lain suruh buat merubah sikap,” kataku dengan nada yang meninggi. Mama pun terdiam, mungkin saking kesalnya padaku.

Aku tinggal berdua dengan Mama sejak 8 tahun lalu. Mama dan Papa bercerai karena orang tua Papa tidak merestui hubungan mereka. Padahal Mama dan Papa masih saling mencintai. Menyakitkan bukan?

“Mama nanti nonton aku lomba padus ya minggu depan di sekolah. Ajak Papa sekalian,” kataku senang.

“Mama nggak akan nonton karena kamu udah nggak mematuhi perintah Mama! Mama akan menonton kalo kamu nggak ikut lomba padus bersama kelas kamu itu!” tegas Mama.

“Itu sih sama aja bo’ong. Bete ah!” kataku sambil berlalu menuju kamar. Menyebalkan! Hanya gara-gara aku sekelas sama anak-anak berandal di kelas, aku tidak diperbolehkan ikut lomba padus. Sungguh konyol sekali! Gimana kalo gue telepon Papa, mungkin dia bisa ngerti, desisku dalam hati. Kupencet tombol nomor telepon Papa. Ayo dong cepet angkat! Klik! Tersambung akhirnya.

“Maaf, nomor yang Anda tuju tidak menjawab panggilan Anda…” operator itu yang menjawab. Menyedihkan! Sekali lagi. Harus diangkat! Harus diangkat!

“Halo?” sahut Papa di seberang sana. Thanks God!

“Halo, Papa! Nonton aku lomba padus di sekolah minggu depan ya! Mama nggak mau nonton nih,” bujukku kepada Papa.

“Wah! Mau nonton dong. Kok Mama nggak mau dateng? Ntar Papa bujuk deh, gampang!” kata Papa. Aku melonjak kegirangan. Tak biasanya aku segirang ini, entah mengapa.

“Nggak ada lomba!” teriak Mama dari depan pintu. Aku tertegun mendengar teriakan Mama. Tubuhku lemas kembali menatap tatapan Mama yang penuh amarah.

“Ntar aku telepon lagi,” kataku sambil menutup ganggang telepon. Aku tertunduk dan membisu seribu bahasa mendengar omelan Mama selama kurang lebih setengah jam.



Hari ini terjadi perdebatan sengit antara Ozza dan David. Ozza menginginkan tidak ada kombinasi lagu, sedangkan David menyetujui adanya kombinasi lagu. Sepertinya pendapat yang kulontarkan memicu perdebatan ini, aku merasa bersalah. Lagi-lagi aku tertunduk dalam keramaian ini. Aku harus turun tangan dan bertanggung jawab atas semua ini.

“Ozza sama David udah jangan berantem. Terserah deh lo mau terima pendapat gue ato nggak, gue nggak apa-apa. Tapi jangan berantem,” kataku sambil menengahi mereka berdua.

“Udah lu nggak usah merasa bersalah, Aulia. Sekarang kita udahin dulu aja perdebatannya! Sekarang voting siapa yang pilih adanya kombinasi lagu dari jazz ke pop?!” kata David meredakan emosi. Ternyata banyak yang menyetujui adanya kombinasi lagu. Ozza sangat malu dan akhirnya ia angkat bicara.

“Oke?! Kalo semuanya begini caranya gue nggak akan ikutan lomba,” kata Ozza sambil berlalu keluar kelas. Aku makin merasa bersalah dalam keadaan seperti ini. Jojo mulai bertindak, ia mengejar Ozza. Aku mengikutinya dari belakang.

“Aulia! Lu mau kemana?” tanya Nagita cemas.

“Gue mau kejar Ozza. Walau gimana pun ini salah gue. Gue harus bertanggung jawab,” kataku dengan suara gemetar menatap ke arah anak-anak XI IPS 2.

“Ya udah, yang lain latihan di sini, kita tentuin siapa yang pegang keyboard, gitar, bass, dan drum. Semuanya masuk,” kata David. Ia menatapku.

“Aulia, ide lu bagus. Jangan merasa bersalah kayak gitu,” kata David mengacungkan jempol padaku. Aku tersenyum dan langsung melanjutkan tujuanku, mengejar Ozza.

Aku panik sekali melihat Ozza marah-marah seperti itu. Mataku mulai berair dan meneteslah air mataku. Walaupun David mengatakan bahwa aku tidak usah merasa bersalah, tetap saja aku merasa sangat bersalah. Aku diam dan mendengar teriakan suara laki-laki yang marah, sepertinya Ozza. Suaranya terdengar samar-samar dan sepertinya di WC pria. Aku berlari menuju WC pria.

“Terus aja David ngatur-ngatur di kelas. Semuanya yang dia mau dipenuhin. Siapa sih ketua kelasnya?! Gue ‘kan,” kata Ozza. Sepertinya ia menonjokkan tangannya ke tembok. Kudengarkan pembicaraan Ozza dan Jojo di depan pintu kamar mandi. Air mataku kali ini mengalir deras tak tertahankan.

“Lu harus berusaha mengharagai pendapat orang lain. Siapa tau aja dengan pemilihan vote tadi kelas kita bisa tampilin performnya semaksimal mungkin,” kata Jojo memberikan pengertian kepada Ozza.

“Sama aja lu kayak David! Ngapain lu pentingin keadaan gue?!” kemarahan Ozza mulai membara. Tiba-tiba terjadi keheningan. Sepertinya tangisanku didengar oleh Jojo dan Ozza. Pintu WC dibuka. Mereka berdua melihat aku tertunduk. Ozza dan Jojo menenangkan aku yang menangis tersedu-sedu. Mereka mengajakku ke kantin dan membelikan aku minuman.

“Kok lu beliin soda sih, Jo?” tanya Ozza bingung.

“Emang kenapa?” tanya Jojo bingung.

“Beliin teh dong,” kata Ozza. Aku bisa merasakan kelembutan dan perhatian kedua temanku ini. Mereka sangat perhatian pada yang lemah. Ozza menepuk bahuku. Kali ini tangisanku mereda.

“Oz, maafin gue. Gara-gara gue lu jadi berantem sama David,” kataku pelan dengan suara yang serak.

“Oh, santai aja. Orang berpendapat wajar ‘kan? Sekarang gue juga dah sadar. Berkat air mata lu itu gue jadi bisa menerima pendapat orang,” kata Ozza tersenyum.

“Dedek Aulia, jangan nangis melulu. Nanti matanya bengkak lho. Sekarang mimi teh dulu,” kata Jojo menyodorkan teh yang dibelinya. Ia memperlakukan aku seperti anak kecil. Aku tertawa kecil mendengarnya.

“Thanks yah. Udah tenangin gue,” kataku pelan sambil meneguk teh itu.

“Gue baru tau orang kayak lu tuh bisa nangis juga,” kata Jojo. Kulihat Ozza mengiyakan perkataan Jojo.

“Dan gue baru tau. Orang yang paling bandel di kelas punya ati juga,” sambarku. Kali ini aku bisa merasakan apa arti dari persahabatan. Jojo melihatku tanpa berkedip-kedip. Aku pura-pura tidak melihat saja. Rasanya berdebar-debar kalau ditatapi seperti itu.

“Ngapain lu liatin gue?” kataku benar-benar tidak tahan dilihati Jojo.

“Kayaknya gue harus balik ke kelas deh. Mau minta maaf sama David. Dada…” kata Ozza sambil tersenyum meledek. Wah! Bahaya, aku dijebak nih.

“Walaupun lu nangis tetep cantik kok,” kata Jojo menatapku sambil tersenyum ramah. Hatiku luluh, jantungku berdebar-debar, wajahku panas, dan mungkin pada saat itu wajahku memerah. Mampus! What should I do now?

“Apaan sih lu ngegombal aja,” kataku berpaling darinya.

“Ia cantik walaupun ada ingus ijo di hidung. Ha…ha…ha…” katanya sambil menyodorkan sapu tangannya. Aku sangat malu sekali! Dasar bodoh! Kututup hidungku dengan telapak tanganku.

“Eh? Itu ‘kan sapu tangan lu? Jorok dong nanti kalo gue ingusin,” kataku sambil menolak tawarannya.

“Selamanya lu mau kayak begini? Ambil aja abis itu lu cuci,” katanya sambil meletakkan sapu tangannya di meja kantin dan berlalu menuju ke kelas. Aku tercengang melihat kebaikannya. Kulihat tubuhnya dari belakang yang makin menjauh. Bahunya lebar dan tubuhnya atletis. Ya, iyalah! Dia ‘kan masuk tim basket sekolah. Kuhilangkan ingusku dari hidungku dengan sapu tangan Jojo.

Ketika aku datang ke kelas, semuanya berlatih dengan serius dan sungguh-sungguh. Baru kali ini kulihat kelasku benar-benar teratur. Lietha melihatku dan langsung mengajakku ke dalam kelas untuk latihan.

“Wei! Kita udah nentuin nih ,Li. Yang pegang keyboard Nagita, bass ada Nino, drum Jojo, sekarang kurang gitarisnya. Pada nggak bisa main gitar. Apa nggak usah ada bass supaya Nino bisa main gitar?” tanya David padaku.

“Yah! Gue main gitarya nggak lancar. Jangan gue donk gitarisnya,” tolak Nino.

“Gue aja yang pegang,” kataku mengajukan diri. Semua anak-anak tercengang melihatku.

“Emang lu bisa main?” tanya David meragukan aku.

“Bukan Aulia namanya kalo nggak bisa main gitar!” kata Jojo menyambar. Semuanya menetapkan bahwa akulah gitaris. Aku tersenyum. Dan latihan pun dimulai. Ibu Virna terlihat sangat senang sekali menyambut perlombaan paduan suara ini.



Benar-benar tidak terasa perlombaan itu 2 hari lagi. Aku benar-benar sangat gugup. Rasa tegang itu terasa sekarang. Guru-guru menganggap remeh kelasku dan Ibu Virna. Tetapi anehnya Ibu Virna menanggapi semuanya itu dengan senyuman.

Lagi-lagi aku bertengkar dengan Mama. Mama bersikeras supaya aku tidak mengikuti lomba paduan suara itu. Sedangkan aku sebaliknya. Aku bersikeras ingin mengikuti lomba itu.

“Mama nggak usah lagi ngatur-ngatur kehidupan aku. Aku mau bergaul sama berandal, pengemis, tukang loak juga terserah aku,” kataku melawan Mama.

“Aulia! Berani sekali kamu?!” Mama membentak aku lebih keras. Aku langsung berlalu menuju kamar. Aku ingat kata-kata Papa yang menjanjikan Mama untuk datang nonton perlombaan paduan suara. Pelupuk mataku sudak tak tahan membendung air mataku. Buyarlah semua tangisanku ini. Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Kuputuskan untuk menelepon Ibu Virna. Kupencet tombol-tombol nomor telepon Ibu Virna di handphoneku.

“Halo? Virna di sini,” sahut Ibu Virna dari seberang sana.

“Mami Virna, ini Aulia,” kataku dengan suara yang serak.

“Kenapa kamu sayang? Ada masalah?” tanya Ibu Virna hati-hati.

“Mama saya nggak ngebolehin ikut lomba padus gara-gara saya sekelas sama anak-anak berandal. Saya kesel banget, Mam,” kataku sambil menyeka air mata.

“Hari ini Ibu akan datang ke rumah kamu dan memberikan penjelasan kepada Mama kamu. Oke?” kata Ibu Virna memutuskan datang ke rumahku.

“Makasih banget ya, Mami!” kataku bersemangat.

Dua jam kemudian terdengar suara bel. Ibu Virna datang! Akhirnya setelah kutunggu. Kulihat Mama membukakan pintu dan mempersilakannya masuk. Aku melihat mereka berbincang-bincang. Mama menyambutnya dengan ramah, bahkan ada canda dan tawa di tengah perbincangan mereka. Tidak ada emosi yang muncul dalam pembicaraan mereka. Ketika Ibu Virna pulang tidak juga diusir oleh Mama. Ibu Virna berpamitan dengan sopan dan Mama menanggapinya dengan ramah. Aneh?! Apa-apaan ini?!



Satu hari menjelang perlombaan dimulai, aku memang benar-benar sangat tegang. Latihan terlihat cukup maksimal dan kelihatan keren. Ada tariannya, macam-macam kreatifitas dikeluarkan sepenuhnya.

“Nanti sore ada latihan lagi jam 5! Oke deh, sampe sini dulu!” kata Ozza menyudahi latihan ini. Kuseka keringat yang mengalir di pipiku. Rasanya hari ini aku lelah. Sepertinya darah rendahku kumat lagi. Jojo memegang lenganku.

“Keringet dingin?! Lu sakit ya?” tanyanya khawatir padaku.

“Nggak-nggak apa. Gue udah biasa, darah rendah gue lagi kumat,” kataku lemas. Aku terduduk lemah di lantai.

“Aulia, lu kenapa?!” tanya Nagita memegang lenganku. Aku hanya menggeleng. Aku tak kuat berdiri lagi, tanganku hanya menelungkupi kakiku.

“Gue nggak bisa jalan,” kataku pelan. Jojo dan David memapahku menuju UKS, sedangkan Nagita membawakan tas ranselku. Untuk menuju ke UKS aku harus menuruni 2 lantai lagi.

“Gue bisa jalan sendiri. Gue nggak mau ngerepotin lu pada,” kataku sambil melepaskan peganganku dari Jojo.

“Eh, jangan dong! Katanya lu nggak bisa berdiri. Nanti kalo jatuh besok nggak bisa tampil,” kata Jojo memegang erat tanganku.

“Iya, lu ‘kan awal dari awal ide bagus ini,” tambah Ernan. Aku tersenyum.

Ketika melanjutkan perjalanan meuju lantai 1, aku terkapar jatuh pingsan. Aku tak sadar lagi apa yang sudah terjadi. Entahlah aku mau dibawa kemana aku tak peduli.



Kubuka kedua mataku perlahan-lahan. Dimanakah aku?! Aku memakai baju piyama biru? Ada infus? Di rumah sakit? Ada Jojo dan Ibu Virna? Ya ampun!

“Jojo! Gue kenapa?” tanyaku terkejut dengan keadaanku.

“Tekanan darah lu rendah banget. Lu harus rawat inap di sini. Yaah, sayang deh besok lu nggak bisa tampil,” katanya kepadaku.

“Tapi yang main gitar siapa?” tanyaku cemas.

“Mami kita,” kata Jojo. Ibu Virna tersenyum dan membelai rambutku. Aku merasa sangat bersalah. Semuanya kukecewakan dengan keadaanku seperti ini. Terlihat Mama dan Papa datang melalui pintu kamar.

“Mama udah duga deh kamu begini,” kata Mama cemas. Mama tersenyum kepada Jojo dan Ibu Virna.

“Mama sebenernya bolehin aku lomba nggak sih?” tanyaku penasaran.

“Yah berkat Ibu Virna ini Mama izinkan. Ibu Virna ngejelasin kalo kelas kamu mau tunjukin potensi,” kata Mama.

“Tapi aku akhirnya ‘kan nggak jadi ikut lomba,” kataku lemas.

“Ya sudahlah, nggak apa-apa. Namanya juga pengalaman si sakit yang tak mengikuti lomba,” kata Papa menyelutuk.

“Gue jadi nggak enak sama anak-anak, Jo. Gimana dong?” tanyaku mennggenggam tangan Jojo. Jojo hanya tersenyum. Tiba-tiba terdengar suara nyanyian “That’s What Friends Are For”. Ternyata anak-anak kelas XI IPS 2. Aku tertawa senang.

“Maaf ya! Gitaris jadi ganti deh gara-gara gue sakit,” kataku.

“Santai aja! Gitarisnya sekarang jadi tua,” sahut Ozza. Tawa anak-anak mengundang Security Guard rumah sakit mengusir mereka. Dasar anak-anak XI IPS 2.



Aku mendapat izin dokter menonton perlombaan paduan suara di sekolah. Betapa menggembirakannya! Aku ingin melihat hasil dari segala hasil buah ideku ini. Aku dijemput oleh Jojo, Nagita, David, dan Ozza. Mama dan Papa datang agak telat karena ada urusan kantornya.
Suasana di aula sekolah hening. Banyak sekali orang yang menonton pertunjukkan ini. Aku duduk di kursi nomor 2 dari depan. Tibalah saatnya penampilan kelasku. Jantungku ikut berdebar-debar. Semuanya sama seperti latihan. Tiba-tiba Jojo maju ke depan dan berbicara.

“Pagi temen-temen, oom, tante, guru-guru! Kita anak-anak XI IPS 2 memang terkenal kelas yang paling ancur, kacau, bahkan kena black list guru-guru. Dari sini kita mau tunjukin potensi kita dari lomba ini. Judul lagu yang akan kita bawain That’s What Friends Are For. Lagu ini membuat kehidupan nyata buat anak-anak XI IPS 2. Karena dalam lagu ini terjadi perdebatan sampai menimbulkan tetes air mata buat temen kita. Gitaris kita aslinya Aulia, cuma diganti sama Mami Virna. Aulia kemarin darah rendah terus dibawa ke RS sama anak-anak dan Mami. Kita berterima kasih banget buat Aulia karena dia cikal bakal dari lagu ini dan proses pembuatannya berkat idenya. Orangnya sih ada di sini, dia dapet izin dokter buat nonton lomba ini. Aulia cepet sembuh dan lagu ini kita persembahin buat lu. And I want to say I love you,” kata Jojo panjang lebar. Kata-kata terakhir membuatku tersenyum dan tersipu malu. Semuanya menatap ke arahku dan bersorak menggoda. Aku menyadari bahwa aku menyukai Jojo.
Lagunya pun dimulai. Terdengar suara lembut sang solis, Catharina. Ia menatapku penuh hangat. Aku tersenyum lebar dan melambai pelan ke arahnya. Dan inilah saat-saat yang ditunggu. Kombinasi jazz menjadi pop. Keren sekali! Aku takjub melihatnya. Tak ada satu wajah yang menunjukkan ketegangan. Perfect! Seperti yang kuharapkan sebelumnya.
Aku menuju belakang panggung. Kulihat wajah-wajah gembira mereka. Kuacungkan jempol. Anak-anak memelukku. Kutatap Jojo yang tersenyum malu padaku.

“Tancep, Jo!” teriak Gerry menepuk punggung Jojo. Aku bingung melihat semuanya itu. Semuanya menyingkir dan tinggal Jojo dan aku.

“Inget, Jo. Pede!” kata Ibu Virna tersenyum. Jojo meggaruk-garuk kepalanya. Aku duduk di atas meja yang ada di dekatku.

“Pada ke mana sih?” tanyaku.

“Nggak tau. Hm… Aulia, lu mau nggak ng..” kata Jojo gugup dan salah tingkah. Aku menatapnya bingung.

“Mau jadi pacarku?” tanyanya perlahan-lahan. Aku tertegun, mataku melotot. Kuberpikir sejenak dalam keheningan.

“Kalo kelas kita juara I gue terima,” kataku sambil tersenyum dan berlalu. Jojo kaget mendengarkan perkataanku. Wajahnya berubah ketakutan. Takut jika kelas kita kalah.
Inilah saat-saat yang ditunggu-tunggu semua anak. Pengumuman pemenang. Bapak Warsito maju ke depan membacakan pengumuman. Kalau membacakan pengumuman biasanya beliau langsung to the point, tidak lama-lama.

“Langsung saja yah. Juara ketiga kelas X-1, juara kedua XI IPA 1, juara pertama? Juara Pertama kok XI IPS 2?” katanya sambil terbingung-bingung melihat kertas pengumuman kejuaraan. Semuanya bersorak-sorai. Aku tersenyum mendengar juara pertama kelasku. Kelas yang hancur dan kacau.

“Aulia, jawabannya?” tanya Jojo secara tiba-tiba. Aku mengangguk. Semuanya bergembira mendengar aku menerima tawaran Jojo. Terlihat juga Mama dan Papa tersenyum menatapku. Semuanya meledekku dan Jojo. Walau begini aku juga harus masuk rumah sakit lagi. Takkan pernah kulupakan kejadian ini. Kejadian yang paling takjub dan menyenangkan. Ada amarah, air mata, tawa, kecemasan, kesulitan, dan kegembiraan bercampur menjadi suatu hasil yang takjub dan mengejutkan.


TAMAT

Bohong ketika orang bilang tidak suka menulis dan membaca...

karena semua orang penulis dan semua orang pembaca...

Monggo Mampir

Diberdayakan oleh Blogger.

Tulisan(s)